Jakarta — Mayoritas mata uang Asia mengalami pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat sepanjang pekan ini, meski tekanan terhadap rupiah terbilang lebih ringan dibandingkan mata uang regional lainnya. Pada penutupan perdagangan Jumat, 24 April 2026, rupiah berhasil menguat 0,53 persen ke level Rp17.190 per dolar AS. Penguatan ini membawa rupiah kembali ke bawah level psikologis Rp17.200 per dolar AS, setelah sehari sebelumnya sempat menyentuh Rp17.280 per dolar AS yang menjadi posisi penutupan terlemah sepanjang masa.
Meski menguat di akhir pekan, secara mingguan rupiah masih mencatatkan pelemahan tipis sebesar 0,06 persen. Di kawasan Asia, hanya dolar Taiwan yang mampu menguat terhadap dolar AS sebesar 0,05 persen. Sementara itu, pelemahan rupiah termasuk yang paling kecil, diikuti dong Vietnam yang turun 0,14 persen, yuan China 0,28 persen, dan ringgit Malaysia 0,30 persen. Tekanan lebih besar dialami yen Jepang yang melemah 0,48 persen, dolar Singapura 0,49 persen, serta won Korea Selatan 0,65 persen. Adapun pelemahan terdalam terjadi pada baht Thailand yang turun 1,32 persen, disusul rupee India 1,77 persen, dan peso Filipina yang menjadi yang terburuk setelah anjlok 1,81 persen.
Pergerakan mata uang Asia masih dipengaruhi penguatan dolar AS sebagai aset aman di tengah ketidakpastian global. Indeks dolar AS pada Jumat tercatat melemah 0,24 persen ke level 98,533, namun secara mingguan masih menguat 0,44 persen. Fluktuasi ini dipicu dinamika konflik AS-Israel dengan Iran yang belum menemukan kepastian. Optimisme terhadap potensi kesepakatan damai sempat menguatkan dolar, namun kekhawatiran konflik berkepanjangan dan gangguan pasokan energi membuat pelaku pasar cenderung berhati-hati, sehingga pergerakan pasar masih terbatas sambil menunggu arah perkembangan berikutnya.

+ There are no comments
Add yours