Jakarta – Mayoritas mata uang Asia mencatat penguatan terhadap dolar Amerika Serikat sepanjang Februari. Mengutip data Refinitiv, pada perdagangan terakhir Jumat (27/2/2026), rupiah ditutup melemah 0,06% ke Rp16.760 per dolar AS. Meski demikian, secara bulanan rupiah masih membukukan apresiasi 0,12%. Penguatan ini belum menempatkan rupiah sebagai yang terkuat di kawasan, karena sejumlah mata uang lain mencatat kenaikan lebih besar.
Peso Filipina menjadi yang paling perkasa dengan apresiasi 2,04% ke PHP57,642 per dolar AS, disusul baht Thailand naik 1,68% ke THB31,00 dan yuan China menguat 1,34% ke CNY6,8579. Ringgit Malaysia terapresiasi 1,29% ke MYR3,888, won Korea Selatan naik 0,77% ke KRW1.439,2, dolar Taiwan menguat 0,73% ke TWD31,375, dolar Singapura naik 0,6% ke SGD1,2645, dan rupee India bertambah 0,68% ke INR91,046. Di sisi lain, yen Jepang melemah 0,83% ke JPY156,05 dan dong Vietnam turun 0,62% ke VND26.040 per dolar AS.
Penguatan mayoritas mata uang Asia terjadi di tengah kenaikan indeks dolar AS yang pada akhir Februari berada di level 97,608 atau naik 0,64% secara bulanan, menjadi kenaikan tertinggi sejak Oktober 2025. Kenaikan ini didorong data Producer Price Index Januari yang naik 0,5% melampaui ekspektasi 0,3%, memicu kehati-hatian pasar terhadap arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve. Pasar masih memperkirakan pemangkasan suku bunga hingga 62 basis poin hingga akhir tahun, di tengah tekanan inflasi, pelemahan pasar tenaga kerja AS, meningkatnya permintaan aset safe haven terkait ketegangan AS-Iran, kenaikan harga minyak sekitar 2%, serta ketidakpastian kebijakan tarif AS setelah Mahkamah Agung membatalkan tarif darurat Presiden Donald Trump.

+ There are no comments
Add yours