Jakarta – Mayoritas mata uang Asia bergerak melemah terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Senin (4/5/2026), di tengah penguatan tipis dolar AS di pasar global. Berdasarkan data Refinitiv per pukul 09.15 WIB, dari delapan mata uang Asia yang dipantau, hanya tiga yang menguat sementara lima lainnya mengalami pelemahan terhadap dolar AS.Rupiah turut melemah dan berada di level Rp17.335 per dolar AS atau terkoreksi sebesar 0,17 persen. Pelemahan terdalam dialami baht Thailand yang terdepresiasi 0,59 persen ke level THB 32,51 per dolar AS, disusul peso Filipina yang melemah 0,19 persen ke posisi PHP 61,40 per dolar AS. Yen Jepang juga tercatat turun 0,05 persen ke JPY 157,11 per dolar AS, serta won Korea yang melemah 0,04 persen ke KRW 1.471,6 per dolar AS. Di sisi lain, ringgit Malaysia menjadi mata uang dengan penguatan terbesar, naik 0,30 persen ke MYR 3,955 per dolar AS, diikuti dolar Taiwan yang menguat 0,17 persen dan dolar Singapura yang naik tipis 0,02 persen.Pergerakan ini dipengaruhi oleh penguatan indeks dolar AS yang naik 0,03 persen ke level 98,183, serta ketidakpastian global akibat ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Situasi di Selat Hormuz yang belum kondusif, termasuk gangguan terhadap jalur pelayaran dan belum tercapainya kesepakatan damai, membuat pelaku pasar bersikap hati-hati. Kondisi ini turut menjaga harga minyak tetap tinggi dan mendorong dolar AS sebagai aset aman, sehingga mata uang Asia, termasuk rupiah, berpotensi terus bergerak volatil.
RUPIAH MELEMAH SAAT MAYORITAS MATA UANG ASIA TERTEKAN DOLAR AS

+ There are no comments
Add yours