RUPIAH TERTEKAN, MAYORITAS MATA UANG ASIA MELEMAH DI TENGAH GEJOLAK GLOBAL

Jakarta – Rupiah terus mengalami tekanan terhadap dolar Amerika Serikat di tengah memanasnya konflik Timur Tengah, yang mendorong penguatan mata uang Negeri Paman Sam. Berdasarkan data Refinitiv pada Jumat, 1 Mei 2026, rupiah ditutup melemah 0,17% ke level Rp17.305 per dolar AS, dan secara mingguan terdepresiasi 0,67% secara point-to-point.

Di kawasan Asia, kinerja rupiah tercatat sebagai yang terburuk ketiga setelah peso Filipina dan rupee India yang masing-masing terkoreksi 0,99% dan 0,69% sepanjang pekan. Sementara itu, yen Jepang menjadi mata uang dengan penguatan tertinggi sebesar 1,47%, disusul won Korea Selatan yang naik 0,37%. Pergerakan ini dipengaruhi dinamika dolar AS yang secara mingguan melemah 0,38% berdasarkan indeks DXY, meski pada perdagangan Jumat justru menguat 0,16% ke posisi 98,21.

Pergerakan dolar AS dipicu keputusan bank sentral Amerika Serikat atau The Fed yang kembali menahan suku bunga melalui voting 8 berbanding 4, menjadi keputusan paling terbelah sejak 1992. Kondisi ini mencerminkan perbedaan pandangan internal terkait arah kebijakan moneter ke depan, di tengah masa jabatan Ketua The Fed Jerome Powell yang akan berakhir pada 15 Mei dan potensi kepemimpinan Kevin Warsh. Selain itu, ketidakpastian akibat konflik AS-Israel dengan Iran serta kekhawatiran terhadap pasokan energi global turut menjaga permintaan dolar AS sebagai aset aman.

You May Also Like

More From Author

+ There are no comments

Add yours