PRODUKSI NAIK, IMPOR GULA MASIH TINGGI

Jakarta – Produksi gula nasional tercatat meningkat pada 2024 mencapai 2,46 juta ton, naik dari 2,23 juta ton pada 2023 berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS). Kenaikan ini ditopang ekspansi areal tebu menjadi 520.823 hektare dari sebelumnya 489.338 hektare, dengan kontribusi terbesar berasal dari perkebunan rakyat sebesar 1,61 juta ton atau sekitar dua pertiga total produksi nasional. Namun, total kebutuhan gula nasional pada 2025 mencapai 6,33 juta ton, sementara produksi dalam negeri hanya 2,67 juta ton sehingga terdapat selisih sekitar 3,6 juta ton.

Kekurangan pasokan tersebut diisi melalui impor. Data historis BPS menunjukkan volume impor gula berada di atas 5 juta ton per tahun sepanjang periode 2020-2024, dengan puncak 6,00 juta ton pada 2022 dan tetap tinggi di 5,31 juta ton pada 2024. Brasil menjadi pemasok utama dengan volume 3,4 juta ton pada 2024, disusul Thailand sebesar 981 ribu ton dan Australia di kisaran 700-800 ribu ton. Konsumsi rumah tangga tercatat 1,46 juta ton atau 23,13% dari total penggunaan nasional, sementara kebutuhan industri pengolahan mencapai 3,9 juta ton dan sektor horeka sekitar 970 ribu ton.

Menteri Pertanian Amran Sulaiman menyebut kondisi ini tidak biasa karena produksi dinilai kurang namun gula tidak terserap optimal. Ia menyoroti aliran gula rafinasi berbasis impor yang masuk ke pasar konsumsi. Di sisi lain, Chief Operating Officer Danantara Dony Oskaria mengungkapkan SugarCo mencatat kerugian Rp680 miliar akibat harga yang tertekan oleh impor gula yang tidak terkontrol, sementara pemerintah telah mengalokasikan subsidi sekitar Rp1,5 triliun untuk menyerap gula petani.

You May Also Like

More From Author

+ There are no comments

Add yours