Jakarta – Mayoritas mata uang Asia bergerak di zona hijau terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan pagi Rabu (25/3/2026), seiring pelemahan dolar AS di pasar global. Berdasarkan data Refinitiv per pukul 09.20 WIB, dari sebelas mata uang Asia, tujuh mata uang tercatat menguat dan empat mata uang melemah terhadap greenback. Pergerakan ini sejalan dengan indeks dolar AS (DXY) yang turun 0,18% ke level 99,253 pada waktu yang sama.
Penguatan terbesar dipimpin rupiah yang melonjak 0,47% ke posisi Rp16.895/US$. Perlu dicatat, ini merupakan perdagangan perdana rupiah setelah libur panjang Lebaran. Sebelumnya, pada perdagangan terakhir Selasa (17/3/2026), rupiah ditutup menguat tipis 0,06% di level Rp16.975/US$. Selain rupiah, dolar Taiwan menguat 0,15% ke TWD 31,87/US$, rupee India naik 0,13% ke INR 93,89/US$, dan won Korea Selatan terapresiasi 0,12% ke KRW 1.494,6/US$. Dong Vietnam dan ringgit Malaysia masing-masing naik 0,08% ke VND 26.329/US$ dan MYR 3,95/US$, sementara yuan China menguat 0,07% ke CNY 6,88/US$.
Di sisi lain, baht Thailand menjadi mata uang yang paling tertekan setelah turun 0,12% ke THB 32,56/US$. Peso Filipina melemah 0,08% ke PHP 59,92/US$, sedangkan yen Jepang dan dolar Singapura sama-sama terkoreksi 0,04% masing-masing ke JPY 158,73/US$ dan SGD 1,27/US$. Pelemahan dolar AS terjadi di tengah laporan bahwa Amerika Serikat tengah mengejar jalur perundingan dengan Iran untuk mengakhiri konflik, meski pasar tetap berhati-hati karena ketidakpastian masih membayangi, termasuk sikap Teheran yang membantah negosiasi serta sinyal dari sejumlah negara Teluk terkait potensi keterlibatan dalam konflik.

+ There are no comments
Add yours