Amerika Serikat – Militer Amerika Serikat melalui United States Central Command atau CENTCOM mengeklaim telah menghancurkan markas besar Garda Revolusi Iran atau IRGC dalam serangan skala besar pada Minggu, 1 Maret 2026 waktu setempat. Dalam pernyataannya di media sosial, CENTCOM menyebut operasi tersebut sebagai langkah yang “memenggal kepala ular” serta menegaskan bahwa Amerika memiliki militer terkuat di dunia dan IRGC kini tidak lagi memiliki markas besar. Komando militer AS itu juga menuduh IRGC telah menyerang warga AS selama beberapa dekade dan bertanggung jawab atas kematian lebih dari 1.000 warga Amerika.
“Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) telah membunuh lebih dari 1.000 warga Amerika selama 47 tahun terakhir. Kemarin, serangan besar-besaran AS telah memenggal kepala ular itu. Amerika memiliki militer terkuat di dunia, dan IRGC tidak lagi memiliki markas besar,” demikian pernyataan CENTCOM, 1 Maret 2026.
Selain itu, militer Israel melaporkan telah menyerang puluhan pusat komando militer Iran, termasuk fasilitas milik IRGC, markas besar intelijen, pusat komando Angkatan Udara IRGC, hingga markas besar keamanan internal. Menurut pernyataan Israel, rangkaian serangan tersebut memberikan pukulan berat terhadap sistem komando dan kendali Iran serta menyebabkan korban jiwa di sejumlah fasilitas penting. Sementara itu, Iran belum mengonfirmasi secara resmi klaim penghancuran markas besar IRGC tersebut, dikutip dari Anadolu Ajansi, Senin.
Namun Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengakui struktur komando militer negaranya mengalami gangguan dan menyebut sejumlah unit kini beroperasi secara independen serta agak terisolasi dengan tetap mengacu pada instruksi umum yang telah diberikan sebelumnya. Klaim dan serangan ini muncul ketika kampanye militer gabungan AS–Israel yang dimulai pada Sabtu, 28 Februari 2026 memasuki hari kedua, yang dilaporkan telah menewaskan beberapa pejabat senior Iran termasuk Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Sebagai balasan, Teheran meluncurkan serangan pesawat nirawak dan rudal yang menargetkan negara-negara Teluk, sementara sejak operasi dimulai tiga personel militer AS dilaporkan tewas dan lima lainnya mengalami luka parah.

+ There are no comments
Add yours