Jakarta – Sepanjang 2025 menjadi periode berat bagi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Di tengah tingginya ketidakpastian global, rupiah tercatat gagal memanfaatkan momentum pelemahan dolar AS di pasar internasional. Data Refinitiv menunjukkan rupiah memulai tahun di level Rp16.090 per dolar AS, namun ditutup melemah ke posisi Rp16.755 per dolar AS pada akhir Desember 2025, atau turun sekitar 4,13% secara tahunan.
Tekanan paling besar terjadi pada April 2025, menyusul kebijakan tarif global agresif yang diumumkan Presiden AS Donald Trump. Pada 8 April 2025, rupiah anjlok 1,84% dalam sehari dan ditutup di level Rp16.850 per dolar AS. Periode tersebut disebut sebagai “salah satu pelemahan harian terdalam sepanjang 2025” akibat gejolak pasar keuangan global dan meningkatnya arus keluar modal asing dari negara berkembang, termasuk Indonesia.
Tekanan belum berhenti di situ. Rupiah kembali mencatatkan titik terlemah tahunannya pada 24 April 2025 dengan penutupan di level Rp16.865 per dolar AS. Bahkan secara intraday, rupiah sempat menyentuh Rp16.970 per dolar AS. Kondisi ini terjadi di tengah penguatan indeks dolar AS dan lonjakan imbal hasil US Treasury yang mendorong investor global mengalihkan dana ke aset berbasis dolar AS yang dinilai lebih aman.
Meski demikian, rupiah sempat menunjukkan pemulihan signifikan pada paruh kedua tahun ini. Puncak penguatan terjadi pada 14 Agustus 2025 ketika rupiah ditutup di level Rp16.106 per dolar AS, menjadi posisi terkuat sepanjang tahun. Penguatan ini didorong oleh meredanya tekanan global, pelemahan dolar AS, serta meningkatnya ekspektasi pasar terhadap pemangkasan suku bunga The Federal Reserve. Saat itu, pasar menilai peluang penurunan suku bunga mencapai “lebih dari 95%” berdasarkan CME FedWatch Tool.
Dari dalam negeri, sentimen positif juga datang dari rilis pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II-2025 sebesar 5,14% yang melampaui ekspektasi pasar. Namun, momentum penguatan rupiah tidak bertahan lama setelah The Fed menegaskan pemangkasan suku bunga akan dilakukan secara terbatas dan bertahap. Pernyataan tersebut membuat ekspektasi pelonggaran agresif kembali terkoreksi dan “membatasi ruang penguatan rupiah” hingga akhir 2025.

+ There are no comments
Add yours