Jakarta – Dolar Taiwan (TWD) terus mencatat penguatan ekstrem terhadap dolar AS, memecahkan rekor dalam tiga tahun terakhir. Sepanjang 2025, mata uang ini telah melambung 11%, membuat barang ekspor Taiwan seperti komponen elektronik dan semikonduktor kian mahal di pasar global. Perusahaan raksasa semacam TSMC dan Foxconn terpaksa menahan napas karena daya saing mereka tergerus oleh produk Korea Selatan, Tiongkok, dan Jepang yang lebih murah. Banyak eksportir yang menerima pembayaran dalam dolar AS kini menghadapi pemasukan domestik menyusut saat dikonversi ke TWD.
Dua faktor utama memicu penguatan TWD: pelarian investor dari aset AS akibat ketidakpastian kebijakan tarif Donald Trump dan optimisme atas aliran modal asing ke Taiwan. Namun, efeknya justru membebani industri. Foxconn mengungkapkan, kenaikan TWD1 saja bisa memotong 3% pendapatan mereka. Sektor asuransi jiwa seperti Fubon Financial juga terancam karena 70% portofolio mereka diinvestasikan dalam aset berdenominasi dolar AS. Ketika TWD menguat, nilai aset itu menyusut drastis—kerugian valas perusahaan asuransi bahkan melonjak dua kali lipat pada Mei 2025.
Bank sentral Taiwan (CBC) mulai mengambil langkah antisipasi dengan menambah cadangan devisa hingga tembus rekor USD598,43 miliar pada Juni 2025, sekaligus menyerukan ketenangan di pasar. Meski demikian, para ekonom memprediksi dampak terburuk akan menghantam eksportir pada paruh kedua tahun ini, terutama ketika efek antisipasi tarif AS mereda. Ironisnya, di tengah tekanan ini, ekspor Taiwan justru mencatat rekor USD440 miliar pada semester I-2025, didorong permintaan gila-gilaan akan chip AI. Namun, prestasi itu tak cukup menutupi kekhawatiran: jika TWD terus perkasa, efisiensi produksi atau kenaikan harga jadi senjata terakhir yang justru berisiko mematikan permintaan.
+ There are no comments
Add yours