Jakarta – Kabar buruk datang dari pasar keuangan! Rupiah mencatatkan kinerja yang kurang menggembirakan di tengah fluktuasi mata uang Asia lainnya terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Data dari Refinitiv menunjukkan bahwa pada penutupan perdagangan Jumat (22/8/2025), mata uang Garuda berada di level Rp16.335/US$, mengalami depresiasi sebesar 0,34%. Ironisnya, ini menandai pelemahan rupiah selama lima hari berturut-turut sejak Jumat (16/8/2025).Dalam sepekan terakhir, rupiah telah kehilangan nilainya sebesar 1,11%, menjadikannya mata uang dengan pelemahan terbesar kedua di kawasan Asia. Kondisi ini tentu menjadi perhatian serius bagi pemerintah dan Bank Indonesia (BI), mengingat pelemahan rupiah dapat berdampak negatif pada berbagai sektor ekonomi, mulai dari inflasi hingga daya saing ekspor.Pelemahan rupiah ini dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari sentimen global terkait kebijakan moneter The Federal Reserve (The Fed) hingga faktor domestik seperti kekhawatiran terhadap defisit neraca transaksi berjalan. Pemerintah dan BI diharapkan dapat mengambil langkah-langkah strategis untuk menstabilkan nilai tukar rupiah dan menjaga kepercayaan investor terhadap perekonomian Indonesia.

You May Also Like

More From Author

+ There are no comments

Add yours