Surabaya – Kenaikan harga bahan baku plastik di pasar global akibat konflik di Timur Tengah mulai memberi tekanan pada struktur biaya hidup di Indonesia. Sejumlah produsen makanan hingga pedagang dilaporkan mulai mengeluhkan meningkatnya biaya plastik. Kondisi ini dinilai memperlihatkan kerentanan ekonomi nasional, mengingat sekitar 60 persen kebutuhan bahan baku plastik dalam negeri masih dipenuhi melalui impor.
Pengamat ekonomi Universitas Airlangga, Rumayya, menilai situasi tersebut menjadi hantaman ganda bagi pelaku usaha terutama UMKM. Selain kenaikan harga bahan baku, pelemahan nilai tukar rupiah turut memperberat biaya produksi. Untuk jangka pendek, pelaku industri disarankan mempertimbangkan pengalihan sumber impor dari negara dengan basis produksi berbeda agar beban industri dapat ditekan.
“Ada dua hal yang membuat ini sangat sakit buat kita; satu harga minyak bahan baku dan plastik itu meningkat, kita kena karena impor otomatis kita kena juga. Yang kedua karena kurs juga melemah kan. Jadi sebenarnya sekarang ini kalau mau kebijakannya, pemerintah bisa enggak dikurangi beban biaya industri ini, misalnya melalui pengurangan PPN atau keringanan bea impor,” tegasnya.
Dalam jangka panjang, kondisi ini dinilai menjadi momentum bagi Indonesia untuk mendorong kemandirian sektor kemasan. Pengembangan bioplastik dari potensi limbah pangan seperti kulit udang, sisa ikan, hingga kulit singkong dinilai dapat menjadi alternatif. Selain itu, optimalisasi koperasi melalui skema pembelian kolektif juga didorong agar harga kemasan tetap terjangkau bagi masyarakat dan UMKM.

+ There are no comments
Add yours