Surabaya – Konsultan dan perencana keuangan Elvi Diana menyarankan Otoritas Jasa Keuangan untuk memperkuat mitigasi risiko terkait potensi pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan imbas eskalasi konflik Iran dan Israel–Amerika Serikat. Pada perdagangan Rabu pagi, 4 Maret 2026, IHSG tercatat turun 43,39 poin atau 0,55 persen ke level 7.896,38. Sementara itu, indeks LQ45 yang berisi 45 saham unggulan melemah 3,29 poin atau 0,41 persen ke posisi 802,31.
Elvi menjelaskan, pelemahan pasar dipicu sikap investor yang menghindari aset berisiko atau risk-off untuk mengantisipasi kenaikan harga minyak mentah dunia. Ia menilai dampak konflik geopolitik biasanya merambat melalui lonjakan harga minyak global, tekanan terhadap nilai tukar rupiah, serta capital outflow dari pasar negara berkembang. Kondisi tersebut berpotensi memperburuk sentimen investor dan menekan saham domestik.
“Elastisitas pasar modal Indonesia terhadap dinamika global cukup tinggi. Jika eskalasi konflik terus berlanjut, volatilitas berpotensi meningkat dan memicu aksi jual lanjutan. Ini harus menjadi alarm bagi OJK untuk memperkuat langkah mitigasi risiko,” kata Elvi, Rabu (4/2/2026).
Ia juga menekankan pentingnya koordinasi antara OJK, Bank Indonesia, dan Kementerian Keuangan untuk menjaga kepercayaan pasar. Investor ritel diimbau tidak panik menghadapi fluktuasi jangka pendek, dengan tetap menerapkan diversifikasi portofolio dan disiplin investasi jangka panjang. Elvi berharap langkah cepat dan terukur dari OJK dapat menjaga stabilitas pasar modal di tengah ketidakpastian global yang semakin kompleks.

+ There are no comments
Add yours