Jakarta – Pemerintah terus mendorong keadilan energi hingga wilayah pesisir melalui kehadiran SPBU Nelayan di Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah. Fasilitas yang dikelola koperasi nelayan dengan dukungan kredit permodalan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan ini memudahkan nelayan memperoleh BBM dengan harga resmi dan jarak yang lebih dekat. Anggota Komite BPH Migas, Erika Retnowati, menegaskan manfaatnya sangat terasa karena sebelumnya nelayan harus membeli dari pengecer dengan harga jauh lebih mahal. “Dengan adanya SPBU Nelayan ini, mereka bisa membeli langsung dengan harga Rp6.800 per liter,” ujarnya.
Selain harga yang lebih terjangkau, efisiensi jarak juga menjadi keuntungan utama karena SPBU terdekat sebelumnya berjarak sekitar 21 kilometer. Erika menambahkan nelayan setempat telah memahami mekanisme Surat Rekomendasi untuk pembelian BBM subsidi dan kompensasi. SPBU Nelayan ini menyalurkan solar, pertalite, serta pertamax untuk masyarakat umum, dengan minat terhadap BBM nonsubsidi yang cukup tinggi. Anggota Komite BPH Migas lainnya, Harya Adityawarman, mengapresiasi operasional SPBU yang telah terintegrasi digital. “Kegiatan operasional SPBU Nelayan ini dapat langsung masuk dashboard Pertamina Patra Niaga dan dapat diakses oleh BPH Migas,” katanya.
Manfaat SPBU Nelayan juga dirasakan langsung oleh nelayan setempat. Daud (43) mengaku kini akses BBM menjadi lebih mudah. “Sebagai nelayan, kami sangat bersyukur ada SPBU Nelayan di sini,” tuturnya. Dalam kunjungan yang sama, BPH Migas juga memantau pasokan BBM selama periode Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 di Donggala dan Palu. Erika memastikan kondisi pasokan aman, sementara Harya menyebutkan kebutuhan Gasoline diperkirakan naik sekitar 5 persen. Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV. Dumatubun, menegaskan komitmen perusahaan, “Nelayan memiliki peran strategis dalam menjaga ketahanan pangan nasional.”

+ There are no comments
Add yours