Jakarta – Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq mengungkapkan bahwa bursa karbon Indonesia masih sepi pembeli meski harapannya tinggi. Di Indonesia Climate Change Forum III 2025, ia bilang tidak ada pembeli karbon asing yang datang, karena regulasi Perpres No. 98/2021 terlalu kaku dan minim ruang untuk pasar sukarela voluntary.
Skema ini hanya punya satu pasal jembatan untuk pengakuan mutual, membuat RI kalah saing di pasar global yang lebih fleksibel.Untuk atasi itu, pemerintah dorong revisi lewat Perpres No. 110/2025 yang buka peluang integrasi pasar sukarela ke skema patuh nasional. Regulasi baru ini bakal ciptakan skema campuran, akui sertifikasi internasional, dan bangun registry karbon terpisah untuk transparansi.
Faisol yakin ini bisa tarik investor asing dan dorong transisi energi, asal Indonesia jaga integritas agar karbon tetap laku di pasar dunia.Namun, Faisol ingatkan keberhasilan bukan cuma soal aturan, tapi juga komitmen emisi. Saat ini, RI belum on track capai target kurangi emisi 43% pada 2030 dari baseline 2019. Kalau curang atau kurang transparan, karbon RI bisa kehilangan nilai dan gak bisa dijual lagi, ujarnya tegas. Upaya ini bagian dari Asta Cita Prabowo untuk ketahanan energi berkelanjutan.

+ There are no comments
Add yours