Bank Indonesia (BI) merilis data terbaru posisi utang luar negeri (ULN) Indonesia pada Juni 2025 yang tercatat sebesar US$433,4 miliar atau sekitar Rp7.014 triliun. Angka ini turun 0,62% dibanding Mei 2025 yang mencapai US$436,1 miliar. Menurut Direktur Eksekutif Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, pertumbuhan ULN Indonesia pada triwulan II 2025 tercatat 6,1% year-on-year (yoy), sedikit melambat dari triwulan sebelumnya yang tumbuh 6,4%.

“Posisi ULN Indonesia pada triwulan II 2025 tercatat sebesar US$ 433,3 miliar, atau secara tahunan tumbuh 6,1% (yoy), sedikit lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan pada triwulan I 2025 sebesar 6,4% (yoy). Adapun, per Mei 2025, ULN tercatat sebesar US$ 435,6 miliar,” ujar Direktur Eksekutif Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) Ramdan Denny Prakoso, Jumat (15/8/2025).

Penurunan utang luar negeri Indonesia terutama berasal dari Amerika Serikat yang pada Juni 2025 tercatat sebesar US$26,45 miliar, turun 0,49% dibandingkan Mei 2025. Sebaliknya, pinjaman dari China justru meningkat dari US$23,4 miliar menjadi US$23,53 miliar atau naik 0,56%. Hal ini menunjukkan tren penurunan ULN dari AS, sementara pinjaman dari China konsisten mengalami kenaikan.

Berdasarkan data historis BI sejak 2010, Singapura tercatat sebagai pemberi utang terbesar bagi Indonesia dengan nilai US$56,8 miliar per Juni 2025, disusul Amerika Serikat dan China yang kini menempati posisi kedua dan ketiga. Kenaikan signifikan utang dari kedua negara tersebut tidak lepas dari kepentingan strategis, di mana dana digunakan untuk mendukung proyek infrastruktur, energi, hingga industri hilirisasi di Indonesia.

You May Also Like

More From Author

+ There are no comments

Add yours