Jakarta – Popularitas Roblox platform game online yang memungkinkan pengguna untuk menciptakan dan bermain game mereka sendiri, telah memicu diskusi penting mengenai peran orang tua dan sekolah dalam melindungi anak-anak dari potensi dampak negatif teknologi digital. Dibuat oleh David Baszucki dan Erik Cassel pada tahun 2004 dan dirilis ke publik pada tahun 2006, Roblox telah menjadi fenomena global menarik jutaan pemain muda. Namun, kemudahan akses dan sifatnya yang interaktif juga menimbulkan kekhawatiran tentang konten yang tidak pantas, interaksi online yang berisiko, dan potensi kecanduan. Menanggapi hal ini, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Menteri PPPA), Arifah Fauzi, dan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti telah secara terbuka menyerukan orang tua dan lembaga pendidikan untuk meningkatkan pengawasan dan edukasi digital bagi anak-anak. Menteri PPPA Arifah Fauzi, menekankan perlunya pengawasan orang tua yang ketat terhadap aktivitas anak-anak di dunia digital. Beliau tidak hanya menyoroti pentingnya membatasi waktu bermain game, tetapi juga menekankan pentingnya pemahaman orang tua tentang konten yang diakses anak-anak mereka di Roblox. “Ini kan harus ada pengawasan dari orang tua juga ya, jadi pola asuh dalam keluarga harus diperhatikan,” kata Menteri Fauzi. Lebih dari sekedar membatasi akses, beliau menyoroti pentingnya membangun komunikasi terbuka dan kepercayaan antara orang tua dan anak, sehingga anak-anak merasa nyaman untuk berbagi pengalaman dan meminta bantuan jika mereka menghadapi situasi yang tidak nyaman atau berbahaya di platform tersebut. Kementerian PPPA menurut Menteri Fauzi, secara konsisten melakukan sosialisasi di berbagai daerah untuk mengedukasi keluarga tentang pentingnya pengawasan penggunaan gadget dan membangun pola asuh yang seimbang, tidak hanya berfokus pada teknologi. Sementara itu Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, mengambil pendekatan yang lebih langsung. Dalam kunjungannya ke SDN Cideng 2, Jakarta Pusat, beliau secara tegas melarang murid-murid bermain Roblox, dengan alasan adanya konten kekerasan dan bahasa yang tidak pantas di dalam game tersebut. “Kalau main HP tidak boleh menonton kekerasan, yang di situ ada berantemnya, di situ ada kata-kata yang jelek-jelek, jangan nonton yang tidak berguna ya. Nah yang main blok-blok (Roblox) tadi itu jangan main yang itu ya, karena itu tidak baik ya,” kata Menteri Mu’ti. Pernyataan ini menunjukkan keprihatinan yang serius terhadap potensi dampak negatif Roblox terhadap perkembangan psikologis dan moral anak-anak. Pernyataan dari Mendikdasmen ini juga menekankan pentingnya peran sekolah dalam memberikan edukasi digital kepada siswa, tidak hanya mengenai penggunaan teknologi yang bertanggung jawab tetapi juga mengenai literasi digital dan kemampuan untuk mengidentifikasi konten yang berbahaya. Seruan bersama dari Menteri PPPA dan Mendikdasmen ini bukan hanya sekadar peringatan, tetapi juga sebuah ajakan untuk kolaborasi yang lebih erat antara orang tua, sekolah, dan pemerintah dalam menciptakan lingkungan digital yang aman dan sehat bagi anak-anak. Ini membutuhkan pendekatan holistik yang mencakup pengawasan yang ketat, komunikasi yang terbuka, dan edukasi digital yang komprehensif, sehingga anak-anak dapat memanfaatkan teknologi dengan bijak dan terhindar dari potensi dampak negatifnya. Peran orang tua dalam memahami platform digital yang dimainkan anak-anak mereka, serta kemampuan mereka untuk berkomunikasi dan mendampingi anak-anak dalam menghadapi tantangan di dunia maya, menjadi sangat krusial. Begitu pula dengan peran sekolah dalam memberikan edukasi literasi digital dan mengajarkan anak-anak untuk menjadi pengguna internet yang bertanggung jawab. Hanya dengan kolaborasi yang kuat dan komitmen bersama, kita dapat memastikan bahwa anak-anak Indonesia dapat tumbuh dan berkembang dengan aman dan positif di era digital ini.
+ There are no comments
Add yours