Jakarta – Tahun 1958, Indonesia diguncang pemberontakan Permesta di Sulawesi. Dalam operasi militer menghadapi pemberontak, TNI berhasil menembak jatuh pesawat tempur yang membombardir Ambon, menewaskan puluhan warga sipil dan prajurit. Pilot yang selamat ternyata warga AS bernama Allen Lawrence Pope. Bukti di sakunya mengungkap identitasnya sebagai agen CIA yang terlibat dalam misi rahasia mendukung pemberontak. Penangkapan ini memicu kemarahan Presiden Soekarno yang secara terbuka menuding Amerika bermain api. Pope divonis hukuman mati oleh pengadilan Indonesia. Namun, eksekusi tak pernah terjadi. Setelah empat tahun mendekam, keluarga Pope datang menemui Soekarno. Air mata istri, ibu, dan saudari Pope melelehkan hati sang presiden. “Bila sudah menyangkut perempuan, hatiku lemah,” kata Soekarno. Secara diam-diam, Pope dibebaskan pada 1962 tanpa surat resmi, hanya dengan syarat mutlak: tutup mulut tentang operasinya. Pope patuh, menghilang di pelosok AS hingga akhir hayatnya. Beredar spekulasi kuat bahwa pembebasan itu bukan tanpa imbalan. Meski Soekarno tak pernah mengakui, isu pertukaran politik mengemuka. Diduga, pembebasan Pope berbanding dengan dukungan diplomatik AS dalam sengketa Papua Barat atau bantuan pembangunan. Soekarno hanya berkelakar saat ditanya, “Mudah-mudahan Amerika kirim Pope lain, nanti kutukar dengan bintang Hollywood.” Lepas dari kontroversi, kisah ini tetap jadi babak unik diplomasi Indonesia di bawah tekanan geopolitik.
+ There are no comments
Add yours