Jakarta – Harga emas berhasil mengakhiri pekan pada posisi menguat, menutup perdagangan Jumat (5/7/2025) di sekitar US$3.336 per troy ons dengan kenaikan harian 0,30%. Kenaikan ini mendorong penguatan pekanan sebesar 1,94%, menghentikan tren penurunan dua pekan berturut-turut sebelumnya. Penguatan emas didorong terutama oleh pelemahan signifikan nilai tukar Dolar AS, yang mencapai level terendah tiga tahun, serta meningkatnya ketegangan menjelang tenggat waktu perundingan perdagangan global.Sentimen safe-haven semakin menguat seiring ketidakpastian kebijakan dan situasi fiskal di AS, termasuk implikasi dari disahkannya paket pemotongan pajak besar-besaran. Meskipun data ketenagakerjaan AS bulan Juni menunjukkan pertumbuhan lebih kuat dari perkiraan, terungkap bahwa hampir setengahnya berasal dari sektor pemerintah, sementara pertumbuhan lapangan kerja sektor swasta justru melambat ke level terendah dalam delapan bulan. Perlambatan ekonomi ini mengurangi tekanan pada bank sentral AS untuk segera memangkas suku bunga, yang sempat menjadi harapan pemegang emas.Optimisme terhadap masa depan harga logam mulia ini tercermin dalam revisi proyeksi sejumlah bank besar. HSBC meningkatkan perkiraan harga rata-rata emas untuk dua tahun ke depan, Goldman Sachs memproyeksikan harga bisa mencapai US$3.700 akhir tahun 2025 dan US$4.000 pada pertengahan 2026, bahkan berpotensi US$4.500 dalam skenario risiko tinggi. Sementara JP Morgan memperkirakan harga akan menembus level psikologis US$4.000 per troy ons tahun depan, didorong oleh ancaman resesi dan eskalasi perang dagang, dengan rata-rata kuartal IV 2025 diproyeksikan di US$3.675.

You May Also Like

More From Author

+ There are no comments

Add yours