Mata uang di kawasan Asia mencatat kinerja yang bervariasi sepanjang pekan ini, didorong oleh rilis data ekonomi Amerika Serikat (AS) yang mengecewakan dan berdampak pada pelemahan dolar AS. Berdasarkan data Refinitiv, won Korea Selatan tercatat sebagai mata uang paling kuat terhadap dolar AS dengan penguatan 1,6%, sementara yen Jepang melemah 0,5% dan menjadi yang terlemah. Rupiah turut menguat tipis sebesar 0,09% menjadi Rp16.270 per dolar AS pada penutupan perdagangan Kamis (5/6/2025).

Pelemahan indeks dolar AS sebesar 0,16% dipicu oleh serangkaian indikator ekonomi AS yang menunjukkan perlambatan. Salah satunya adalah laporan ketenagakerjaan ADP yang hanya mencatat penambahan 37.000 tenaga kerja di sektor swasta pada Mei, terendah sejak Maret 2023. Selain itu, data PMI jasa ISM mencerminkan kontraksi untuk pertama kalinya dalam hampir setahun, sementara pertumbuhan gaji dan ketegangan dagang yang kembali memanas turut memperburuk sentimen terhadap dolar AS.

Presiden AS Donald Trump juga mengumumkan rencana menggandakan tarif impor baja dan aluminium menjadi 50% mulai pekan ini, yang menambah kekhawatiran investor terhadap prospek perdagangan global. Ketegangan dengan China kembali mencuat setelah Trump menuduh Beijing melanggar kesepakatan dagang. Di sisi lain, data JOLTS dari BLS menunjukkan peningkatan lowongan kerja menjadi 7,39 juta pada akhir April, meski tidak diiringi peningkatan signifikan dalam perekrutan, mencerminkan ketidakpastian di pasar tenaga kerja AS.

You May Also Like

More From Author

+ There are no comments

Add yours