Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan Indonesia cukup siap menghadapi potensi perang dagang dan kenaikan tarif impor dari Amerika Serikat (AS) di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump. Hal ini disampaikan dalam Sarasehan Ekonomi bersama Presiden RI di Jakarta, Selasa (8/4). Menurut Airlangga, ekspor Indonesia ke AS hanya berkontribusi sekitar 2,2 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), jauh lebih rendah dibanding Vietnam yang mencapai 33 persen.
“Kita bisa menahan akibat terhadap perekonomian kita. Jadi Amerika bukan satu-satunya market yang membuat kita susah,” ujar Airlangga.
Untuk mengantisipasi dampak global, pemerintah telah menjalankan berbagai kebijakan jangka pendek seperti penguatan daya beli masyarakat lewat bansos, THR, hingga stabilisasi harga pangan. Pemerintah juga memberikan stimulus ekonomi berupa diskon tarif dan insentif pajak untuk sektor properti serta kendaraan listrik. Selain itu, bantuan bagi industri padat karya dan subsidi bunga Kredit Usaha Rakyat (KUR) juga disalurkan demi menjaga daya saing dan mencegah pengurangan tenaga kerja.
Ke depan, strategi jangka menengah pemerintah mencakup penguatan devisa hasil ekspor dan pengembangan bullion bank untuk memperkuat cadangan devisa nasional. Airlangga menegaskan peluang pasar non-AS masih sangat besar, karena AS hanya menyumbang 17 persen dari total perdagangan global. Pemerintah pun mendorong kerja sama dagang dengan Uni Eropa, ASEAN, RCEP, CPTPP, BRICS, dan kawasan Eurasia.
“Fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat. APBN kita juga masih menjadi shock absorber di tengah ketidakpastian global,” pungkasnya.

+ There are no comments
Add yours