JAKARTA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan bahwa potensi megathrust di Indonesia bukanlah hal baru, mengingat negara ini sering dilanda gempa bumi. Mengacu pada Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia tahun 2017, terdapat 13 segmen megathrust yang berpotensi menimbulkan gempa besar, di antaranya adalah Megathrust Mentawai-Pagai (M8,9), Enggano (M8,4), Selat Sunda (M8,7), Jawa Barat-Jawa Tengah (M8,7), Jawa Timur (M8,7), Sumba (M8,5), Aceh-Andaman (M9,2), Nias-Simelue (M8,7), Batu (M7,8), Mentawai-Siberut (M8,9), Sulawesi Utara (M8,5), Filipina (M8,2), dan Papua (M8,7).

Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, menjelaskan bahwa meskipun gempa besar baru-baru ini mengguncang Megathrust Nankai, Jepang Selatan, tidak ada kaitan langsung antara gempa tersebut dengan gempa yang sering terjadi di Indonesia. Ia menegaskan bahwa peningkatan aktivitas gempa di Indonesia adalah tren alami, bukan dampak dari gempa di Jepang. Berdasarkan data BMKG, aktivitas gempa di Indonesia meningkat drastis dari 2.254 kejadian per tahun (1990-2008) menjadi lebih dari 12.000 kejadian per tahun sejak 2018.

Dwikorita Karnawati, Kepala BMKG, menyoroti pentingnya mitigasi bencana geologi di tengah meningkatnya aktivitas tektonik. Hingga kini, BMKG telah memperluas jaringan seismograf dari hanya 20 unit pada tahun 2004 menjadi 550 unit. Sistem informasi dini gempa dan peringatan dini tsunami juga terus ditingkatkan untuk menghadapi tantangan bencana yang semakin kompleks, termasuk bencana hidrometeorologi akibat perubahan iklim. Upaya ini menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko dan meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat.

You May Also Like

More From Author

+ There are no comments

Add yours