Jakarta – Harga minyak mentah dunia masih bergerak sangat labil meski mulai melandai di tengah konflik Timur Tengah yang terus berlanjut. Pasar turut mencermati tewasnya pejabat Iran Ali Larijani yang dinilai berpotensi memicu gejolak baru dan kembali menyeret harga minyak ke level tinggi.
Merujuk Refinitiv, pada perdagangan Kamis (18/3/2026) pukul 08.38 WIB, harga minyak Brent turun 0,82% ke US$ 102,57 per barel sementara WTI jatuh 1,32% ke US$ 94,94 per barel. Meski melemah, harga minyak mentah tetap berada di zona tinggi seiring meningkatnya gangguan produksi dan masih tertutupnya Selat Hormuz yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia.Pekan ini Iran juga meningkatkan serangan di kawasan, termasuk serangan yang lebih berat ke Arab Saudi.
Sebagian besar serangan terfokus di provinsi timur kerajaan tersebut, yang merupakan lokasi infrastruktur minyak penting.Dengan Selat Hormuz masih ditutup, pemerintah Saudi mempercepat upaya menyalurkan minyak melalui pipa lintas negara menuju pelabuhan alternatif di Laut Merah. Pasar minyak terus memantau perkembangan di Selat Hormuz yang masih terblokir. Kondisi lalu lintas kapal saat ini dipengaruhi oleh pertimbangan politik, di mana Iran kemungkinan hanya mengizinkan sejumlah kapal tertentu melintas berdasarkan hubungan politik, sementara kapal lainnya dibatasi atau bahkan diblokir.
“Kami belum melihat tanda-tanda konflik akan berakhir. Dengan meningkatnya gangguan produksi dan Selat Hormuz yang masih tertutup, kami memperkirakan harga Brent akan bertahan di kisaran US$95-US$110 per barel,” kata Robert Rennie, Kepala Riset Komoditas Westpac.

+ There are no comments
Add yours