Jakarta – Pemerintah Amerika Serikat menyatakan optimistis arus pelayaran di Selat Hormuz akan kembali normal dalam waktu dekat di tengah ketegangan konflik Iran yang mengganggu distribusi energi global. Pernyataan tersebut disampaikan Menteri Energi Amerika Serikat Chris Wright saat memberikan keterangan mengenai kondisi lalu lintas kapal tanker di jalur vital tersebut. Wright mengatakan arus kapal diperkirakan mulai kembali lebih normal setelah kemampuan Iran untuk mengancam kapal berhasil dilemahkan. Meski demikian, ia mengakui kondisi saat ini masih jauh dari situasi normal dan membutuhkan waktu untuk pemulihan.
Harga minyak mentah dunia bergerak volatil sepanjang pekan ini dan kembali menembus level di atas US$100 per barel di tengah memanasnya konflik di Timur Tengah. Lonjakan terjadi setelah pasokan dari kawasan tersebut terganggu akibat konflik Iran yang membuat Selat Hormuz, jalur distribusi minyak utama dunia, masih ditutup.Berdasarkan data Refinitiv, harga minyak acuan Brent tercatat di US$103,14 per barel atau menguat 2,67% dari perdagangan hari sebelumnya. Sementara harga minyak mentah acuan Amerika Serikat West Texas Intermediate (WTI) berada di US$98,71 per barel atau naik 3,11%. Secara mingguan, Brent dan WTI masing-masing melonjak 11,27% dan 8,59%.
“Lalu lintas saat ini masih jauh dari kondisi normal. Itu akan membutuhkan waktu. Namun dalam skenario terburuk, ini hanya akan memakan waktu beberapa minggu, bukan berbulan-bulan,” ujarnya.
Kenaikan harga dipicu pemangkasan produksi oleh sejumlah produsen besar di Timur Tengah serta terganggunya distribusi akibat ketegangan di Selat Hormuz yang selama ini dilalui sekitar 20% konsumsi minyak dunia. Situasi kian memanas setelah Iran meningkatkan serangan terhadap kapal dan fasilitas energi di kawasan tersebut, sehingga memicu kekhawatiran baru terhadap pasokan minyak global.

+ There are no comments
Add yours