KONFLIK TIMUR TENGAH PICU POTENSI LONJAKAN PERMINTAAN SENJATA

Jakarta – Memanasnya konflik di Timur Tengah dinilai tidak hanya memperburuk situasi geopolitik global, tetapi juga berpotensi meningkatkan permintaan senjata di kawasan tersebut. Hal ini disampaikan CEO perusahaan pertahanan Jerman Renk, Alexander Sagel, yang menilai perang Iran dan krisis yang berkembang di kawasan dapat mendorong kebutuhan pertahanan.

Menurut Sagel, konflik yang terus membesar berpotensi meningkatkan belanja militer untuk berbagai kebutuhan, mulai dari sistem pertahanan udara, amunisi, hingga kekuatan darat. Renk sendiri merupakan perusahaan yang bergerak di bidang teknologi penggerak militer, termasuk untuk kendaraan tempur infanteri atau infantry fighting vehicle (IFV), dan menjadi pemasok bagi sejumlah perusahaan pertahanan besar. Perusahaan tersebut juga telah menerima pesanan pertama untuk prototipe IFV baru dari salah satu negara Teluk yang direncanakan dikembangkan dalam dua hingga tiga tahun ke depan.

“Krisis yang terjadi saat ini di Timur Tengah, perang Iran, secara keseluruhan dapat mendorong peningkatan permintaan kemampuan pertahanan di kawasan ini,” ujar CEO Renk Alexander Sagel.

Laporan Stockholm International Peace Research Institute atau SIPRI menunjukkan Timur Tengah menyumbang 27 persen dari total impor senjata global pada periode 2020 hingga 2024, sementara Afrika Utara menyumbang 2,2 persen. Empat dari sepuluh importir senjata terbesar dunia berasal dari kawasan ini, yakni Qatar, Arab Saudi, Mesir, dan Kuwait. Amerika Serikat menjadi pemasok utama dengan pangsa sekitar 50 persen, disusul Italia, Prancis, dan Jerman.

You May Also Like

More From Author

+ There are no comments

Add yours