Jakarta – Nilai tukar rupiah sempat menyentuh Rp16.910 per dolar AS pada Rabu (4/3/2026). Namun, Wakil Menteri Keuangan Juda Agung memastikan gejolak tersebut tidak akan membuat utang pemerintah membengkak signifikan karena APBN dinilai cukup fleksibel merespons tekanan global.
Pemerintah kini aktif melakukan diversifikasi pembiayaan utang valas. Jika sebelumnya didominasi dolar AS, kini penerbitan juga dilakukan dalam mata uang euro dan renminbi, termasuk global bond setara US$4,5 miliar dengan yield yang kompetitif.
Per 31 Desember 2025, total utang pemerintah tercatat Rp9.637,9 triliun atau 40,46% terhadap PDB. Komposisinya didominasi rupiah sebesar 71,73%, sementara utang valas hanya 28,3%, sehingga eksposur terhadap pergerakan kurs dinilai tetap terkelola meski rupiah berfluktuasi.

+ There are no comments
Add yours