JAKARTA – Upaya pemulihan jaringan telekomunikasi di wilayah Sumatra terus menunjukkan perkembangan positif usai banjir bandang yang melanda pada akhir November lalu. Dalam rapat koordinasi di Medan pada awal pekan ini, pemerintah melaporkan bahwa lebih dari 90% pemancar di Sumatra Barat dan Sumatra Utara telah kembali pulih.

Namun, di Aceh kondisi masih jauh tertinggal karena gangguan pasokan listrik, sehingga sekitar 60% menara seluler di provinsi tersebut belum dapat beroperasi. Menteri Komunikasi dan Digital (Komdigi), Meutya Hafid, menegaskan bahwa pemerintah bersama operator telekomunikasi dan PLN terus bekerja keras untuk mempercepat normalisasi jaringan.Berdasarkan data resmi per Senin (1/12/2025) pukul 00.00 WIB, terdapat 2.804 menara telekomunikasi yang terdampak di tiga provinsi tersebut, dengan rincian 1.969 menara di Aceh, 681 di Sumatra Utara, dan 154 di Sumatra Barat. Operator seluler kini memprioritaskan percepatan perbaikan di wilayah Aceh, namun hal itu sepenuhnya bergantung pada pemulihan pasokan listrik.

Pemerintah optimistis bahwa apabila listrik dapat dipulihkan dalam empat hari ke depan, maka tingkat pemulihan layanan seluler di Aceh bisa meningkat hingga 75% pada 5 Desember 2025.Sebagai langkah tambahan untuk memastikan konektivitas warga tetap tersedia, Komdigi juga telah mengaktifkan sepuluh titik layanan internet berbasis satelit Satria-1 di lokasi-lokasi strategis. Perangkat dan tim teknis dari BAKTI Komdigi, BNPB, SAR, dan TNI telah dimobilisasi sejak 30 November guna memastikan layanan darurat ini segera beroperasi. Titik layanan tersebut tersebar di Sumatra Utara, Aceh, dan Sumatra Barat, mulai dari bandara, sekolah, kantor pemerintahan, hingga area pengungsian. Pemerintah berharap dukungan jaringan satelit ini dapat membantu menjaga komunikasi masyarakat hingga seluruh infrastruktur seluler kembali pulih sepenuhnya.

You May Also Like

More From Author

+ There are no comments

Add yours