Jakarta – Investasi emas diperkirakan akan mengalami penurunan pada tahun 2026 apabila kondisi ekonomi dan geopolitik dunia menunjukkan pemulihan. Chief Economist Citibank N.A. Indonesia, Helmi Arman, mengatakan bahwa penguatan ekonomi di Amerika Serikat dan China berpotensi membuat investor beralih ke instrumen lain seperti saham dan properti yang menawarkan peluang keuntungan lebih tinggi. Selama beberapa tahun terakhir, sebagian besar permintaan emas memang berasal dari aktivitas investasi, bukan untuk kebutuhan industri.
Helmi menjelaskan bahwa bank sentral di sejumlah negara berkembang menjadi pembeli utama emas dalam beberapa tahun terakhir akibat ketegangan geopolitik dan dinamika kebijakan perdagangan global. Namun, jika situasi dunia menjadi lebih stabil, permintaan terhadap emas sebagai aset lindung nilai kemungkinan akan melambat. Selain itu, minat pembelian emas rumah tangga di Asia, terutama China dan India, juga akan menurun apabila sektor keuangan dan properti di kedua negara tersebut kembali pulih.
Di sisi lain, Helmi memprediksi bahwa harga logam dasar seperti nikel, tembaga, dan aluminium justru berpotensi meningkat jika perekonomian global membaik dan aktivitas industri kembali bergerak. Kondisi ini membuat emas berpeluang kehilangan daya tariknya dibandingkan komoditas lain. “Jika ekonomi pulih, maka logam dasar dapat naik panggung, sementara emas mungkin tidak sekuat tahun ini,” ujarnya.

+ There are no comments
Add yours