Jakarta – Tekanan inflasi global pada 2025 masih belum merata, dengan sejumlah negara terutama di Afrika dan Amerika Selatan masih menghadapi lonjakan harga yang ekstrem. Kondisi ini dipicu oleh pelemahan mata uang, tekanan fiskal, dan lemahnya struktur ekonomi. Menurut riset Nairametrics yang mengutip data resmi dari berbagai lembaga statistik nasional, negara-negara seperti Sudan Selatan, Sudan, dan Iran mencatat inflasi tertinggi di dunia, masing-masing di atas 80%. “Fenomena ini menunjukkan ketidakseimbangan makroekonomi yang serius serta lemahnya tata kelola fiskal dan moneter,” ungkap laporan tersebut.
Di peringkat pertama, Sudan Selatan mencatat inflasi sebesar 107,9% pada September 2025, meski sedikit turun dibanding tahun sebelumnya. Negara ini masih terjebak dalam ketergantungan tinggi terhadap pendapatan minyak dan nilai tukar pound Sudan Selatan yang sangat fluktuatif. Sudan mengikuti di posisi kedua dengan inflasi 83,47%, turun dari 156% pada April, namun tetap tinggi akibat konflik, pasokan uang yang ekspansif, dan lemahnya kebijakan fiskal. “Upaya stabilisasi nilai tukar dan disiplin fiskal yang ketat menjadi satu-satunya jalan untuk memulihkan kepercayaan pasar,” ujar analis ekonomi Afrika Timur.
Iran menempati urutan ketiga dengan inflasi 38,9% pada Oktober 2025, didorong oleh sanksi ekonomi internasional dan depresiasi rial yang berkelanjutan. Di bawahnya, Burundi mencatat inflasi 36,9% akibat depresiasi mata uang dan lonjakan harga pangan, disusul Turki 33,29% yang masih berjuang dengan pelemahan lira dan kebijakan moneter yang tidak ortodoks. Zimbabwe pun mengalami inflasi 32,7%, meski turun drastis dari bulan sebelumnya, berkat reformasi mata uang Zimbabwe Gold. “Kredibilitas bank sentral dan reformasi struktural menjadi kunci untuk menahan inflasi,” kata ekonom kawasan Selatan Afrika.
Sementara itu, negara-negara seperti Haiti (31,9%), Argentina (31,8%), Malawi (28,7%), dan Angola (18,2%) masih berjuang menahan tekanan harga akibat depresiasi mata uang, biaya impor tinggi, serta lemahnya produksi domestik. Meski inflasi di sebagian negara berkembang mulai menunjukkan tanda-tanda moderasi, banyak yang masih terjebak dalam siklus harga tinggi dan ketidakstabilan nilai tukar. “Tanpa reformasi mendalam di sektor fiskal, moneter, dan produksi lokal, inflasi di negara-negara ini sulit turun secara berkelanjutan,” tegas laporan tersebut.

+ There are no comments
Add yours