Jakarta – Iran dinilai sebagai pasar ekspor yang potensial bagi Indonesia, meskipun negara tersebut tengah menghadapi sanksi ekonomi dari Amerika Serikat dan sekutunya. Wakil Ketua Komite Bilateral Iran KADIN, Broto Probohascaryo, menyatakan bahwa sanksi tersebut justru membuka peluang bagi Indonesia untuk mengisi kekosongan pasar yang sebelumnya didominasi oleh China dan Korea. Produk Indonesia seperti permen Kopiko sudah cukup populer di Iran, menunjukkan kemampuan Indonesia untuk bersaing. Salah satu keuntungan yang dimiliki Iran adalah jumlah penduduknya yang mencapai 92 juta jiwa dan lokasinya yang strategis di kawasan Persia, yang dapat menjadi hub untuk membuka pasar ke wilayah lain. Iran membutuhkan berbagai produk impor, termasuk bahan baku untuk pakaian dan alas kaki, untuk mendorong pertumbuhan ekonominya. Indonesia dan Iran telah memiliki perjanjian perdagangan preferensial (PTA) sejak 2023, yang berdampak pada penurunan tarif atau bahkan 0% untuk beberapa komoditas ekspor Indonesia ke Iran. Produk-produk yang berpotensi diekspor antara lain minyak kelapa sawit (CPO) dan turunannya, makanan, obat-obatan, alas kaki, tekstil, karet, serta suku cadang otomotif.
You May Also Like
KOMISI XII DPR DUKUNG MITIGASI PASOKAN MIGAS RI
March 4, 2026
KINERJA EKSPOR JAWA TIMUR AWAL 2026 NAIK 4,73 PERSEN
March 3, 2026

+ There are no comments
Add yours