JAKARTA – Ketegangan geopolitik dan persaingan teknologi antara Amerika Serikat (AS) dan China kembali memanas. Meskipun Presiden AS Donald Trump mencabut larangan ekspor chip kecerdasan buatan (AI) H20 milik Nvidia ke China pada Juli 2025, China merespon dengan langkah yang signifikan. Media pemerintah China, termasuk akun media sosial Yuyuan Tantian yang berafiliasi dengan stasiun televisi pemerintah CCTV, dan People’s Daily, mengeluarkan pernyataan yang menuduh chip H20 tersebut memiliki celah keamanan serius berupa “backdoor”. Tuduhan ini, yang muncul setelah regulator keamanan siber China memanggil Nvidia pada 31 Juli untuk meminta klarifikasi, menyatakan bahwa celah tersebut memungkinkan pengendalian jarak jauh chip, termasuk pemadaman fungsi secara paksa. Sebuah artikel di platform WeChat oleh Yuyuan Tantian, yang dikutip Reuters, mengungkapkan kekhawatiran tentang keamanan chip tersebut dan menyiratkan bahwa konsumen China memiliki pilihan untuk tidak membelinya. Ini menunjukkan potensi dampak signifikan terhadap pasar chip Nvidia di China. Nvidia dengan tegas membantah semua tuduhan tersebut, menekankan bahwa chip H20 dirancang dengan standar keamanan internasional tertinggi dan tidak memiliki “backdoor”. Perusahaan juga menyatakan telah sepenuhnya bekerja sama dengan otoritas China dalam penyelidikan, menyediakan semua informasi yang dibutuhkan. Namun, timbul pertanyaan apakah tuduhan ini murni berdasarkan temuan teknis atau didorong oleh motif politik. Banyak pengamat melihat ini sebagai bentuk balasan China atas keputusan Trump untuk mencabut sanksi ekspor chip tersebut, yang diyakini terkait dengan negosiasi yang lebih luas, termasuk akses AS terhadap logam tanah jarang. Pencabutan sanksi tersebut, ternyata, tidak cukup menjamin akses pasar yang lancar bagi Nvidia di China. Latar belakang situasi ini adalah larangan ekspor chip AI canggih AS ke China pada akhir 2023, yang mendorong Nvidia untuk mengembangkan chip H20 khusus untuk pasar China. Ironisnya, pemerintah Trump kemudian memperketat larangan tersebut pada April 2025 sebelum akhirnya mencabutnya. Tuduhan terhadap Nvidia muncul di tengah upaya gencar China untuk mengembangkan industri chip domestiknya sendiri, dengan Huawei sebagai salah satu pemain utama yang berupaya mengurangi ketergantungan pada teknologi asing. Persaingan teknologi dan geopolitik yang intens antara AS dan China menjadi konteks utama dari situasi ini, dengan tuduhan terhadap Nvidia yang mungkin merupakan bagian dari strategi yang lebih besar untuk melindungi dan mengembangkan industri teknologi dalam negeri China. Perkembangan situasi ini akan terus dipantau secara ketat oleh para analis dan pengamat ekonomi internasional.

You May Also Like

More From Author

+ There are no comments

Add yours