JAKARTA – Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament Indonesia (APSyFI), Redma Gita Wirawasta, mengungkapkan bahwa investasi senilai ratusan juta dolar AS akan segera mengalir ke sektor hulu tekstil nasional. Ini merupakan dampak dari kebijakan tarif bea masuk yang diberlakukan Presiden AS, Donald Trump, pada April 2025, yang turut mengubah peta persaingan dan investasi di industri tekstil dan produk tekstil (TPT). Redma menyebutkan bahwa tiga anggota APSyFI berencana mereaktivasi kapasitas produksi tahun ini, sementara satu perusahaan penanaman modal asing (PMA) akan mulai beroperasi tahun depan.
Secara keseluruhan, investasi ini diperkirakan akan menambah kapasitas produksi sebesar 190 ribu ton serat polyester, 250 ribu ton POY, dan 50 ribu ton DTY, dengan total investasi sekitar US$250 juta atau sekitar Rp4,2 triliun. Dukungan dari Kementerian Perindustrian dan Kementerian Perdagangan terkait pengaturan importasi serta rencana penerapan Bea Masuk Anti Dumping (BMAD) menjadi faktor pendorong utama optimisme reaktivasi dan penanaman modal baru di sektor ini. Selain membidik pasar ekspor ke AS, perusahaan-perusahaan ini juga melihat potensi besar di pasar domestik.
Redma menambahkan, konsumsi serat polyester dan filament di Indonesia pada tahun 2024 tercatat sekitar 880 ribu ton, dengan 54% di antaranya berasal dari impor. Namun, pada kondisi normal, konsumsi nasional bisa mencapai 1,4 juta ton. Hal ini memperkuat keyakinan bahwa pasar dalam negeri menawarkan peluang yang menjanjikan bagi para investor dan pelaku industri tekstil nasional.
+ There are no comments
Add yours