JAKARTA-Harga minyak dunia mengalami penurunan tajam hingga 14%, menyentuh level US$66 per barel. Penurunan ini terjadi akibat tekanan dari tiga faktor utama yang digambarkan sebagai “badai” besar dalam pasar energi global. Ketidakpastian ekonomi global, meningkatnya produksi dari beberapa negara produsen utama, dan melemahnya permintaan menjadi kombinasi yang memukul harga minyak secara signifikan.
Ketidakstabilan ekonomi global, termasuk kekhawatiran resesi di beberapa negara maju, membuat pelaku pasar ragu terhadap prospek permintaan energi ke depan. Di sisi lain, negara-negara produsen minyak seperti Amerika Serikat dan Rusia justru meningkatkan produksi, menciptakan surplus pasokan di tengah lesunya konsumsi. Hal ini memperbesar kesenjangan antara pasokan dan permintaan di pasar global.
Faktor ketiga yang turut mendorong kejatuhan harga minyak adalah menguatnya nilai dolar AS. Dolar yang lebih kuat membuat minyak, yang diperdagangkan dalam mata uang tersebut, menjadi lebih mahal bagi negara-negara lain. Kondisi ini memperlemah permintaan global secara keseluruhan. Jika tren ini terus berlanjut, pelaku pasar memprediksi harga minyak bisa terus melorot, memicu efek domino di sektor energi dan ekonomi dunia.
+ There are no comments
Add yours