Pergerakan rupiah pada pekan lalu menguat, dipengaruhi oleh melemahnya indeks dolar AS dan yield US Treasury, dengan rupiah ditutup pada level Rp15.840/US$ pada Jumat (29/11/2024). Meskipun menguat tipis 0,19% selama sepekan, tantangan masih ada, terutama menjelang pengumuman data inflasi dan manufaktur Indonesia yang menjadi perhatian investor.

Inflasi Indonesia diperkirakan akan meningkat pada November 2024, seiring dengan kenaikan harga bahan pokok dan BBM non-subsidi. Inflasi diprediksi naik 0,25% secara bulanan (mtm), dengan inflasi tahunan diperkirakan berada di 1,49%. Jika terjadi, ini akan menjadi inflasi beruntun dalam dua bulan setelah periode deflasi panjang sebelumnya.

Di sisi lain, sektor manufaktur Indonesia masih menghadapi kontraksi dengan PMI yang tercatat 49,2 pada Oktober 2024, menunjukkan kondisi yang buruk. Jika tren kontraksi berlanjut, hal ini bisa berdampak pada peningkatan pengangguran dan menurunkan daya beli masyarakat, yang berisiko menghambat pertumbuhan ekonomi Indonesia.

You May Also Like

More From Author

+ There are no comments

Add yours